Bulan dari proses memasuki bayangan bumi sampai mencapai gerhana total (bawah). Seperti terlihat pada malam hari Selasa 28 Agustus 2007 di langit Jakarta.
(Xinhua/AFP Photo)
Selasa, Agustus 28, 2007
Gerhana Bulan di Langit Jakarta
Diposting oleh
Administrator
di
8:00 PM
0
komentar
Label: Gerhana Bulan
Sabtu, Agustus 25, 2007
Bersahabat Dengan Masalah
"If a problem doesn't kill you, it will make you stronger."
Seorang kawan mengeluh, "Pak, saya kok sering kena masalah ya? Padahal saya ini sudah rajin berdoa, selalu positive thinking, tidak pernah bikin susah orang lain, suka menolong orang lain, jujur dalam bekerja, dan nggak neko-neko. Kenapa ya Pak? Apa masalah saya? Saya sudah bosan kena masalah terus."
"Wah, selamat ya," balas saya. "Lho, bagaimana sih Pak Adi ini. Saya punya banyak masalah kok malah diberi selamat. Senang ya Pak kalau lihat orang susah?" kawan saya balik bertanya dan agak jengkel. "Sabar...sabar. .. bukan begitu maksud saya. Jangan tersinggung dong," jawab saya cepat sambil berusaha menenangkan kawan saya ini. Nah, pembaca, apa yang saya tulis di artikel ini merupakan hasil obrolan saya dan kawan saya.
Masalah. Setiap orang pasti punya masalah. Setiap hari kita pasti berhadapan dengan masalah. Kita berusan dengan masalah. Kita mendapat masalah. Kita membuat masalah. Kita bahkan bisa jadi sumber masalah. Masalah terbesar adalah kalau kita tidak tahu bahwa masalah kita adalah
kita merasa tidak punya masalah.
Pembaca, waktu Anda mengalami masalah, bagaimana reaksi Anda? Apakah Anda marah? Jengkel? Sakit hati? Frustrasi? Takut? Menyalahkan diri sendiri? Atau Anda cenderung untuk menyalahkan orang lain? Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya menggunakan judul "Bersahabat Dengan Masalah". Apa nggak salah, nih? Kita kok diminta bersahabat dengan masalah?
Benar. "Masalah" sebenarnya adalah hal yang sangat positif. Mari kita bahas terlebih dahulu makna di balik kata "masalah". Masalah, yang dalam bahasa Inggris adalah "problem", ternyata mempunyai akar kata yang maknanya sangat berbeda dengan yang kita pahami selama ini.
Akar kata "problem" berasal dari bahasa Yunani, proballein, yang bila ditelusuri lebih jauh mengandung makna yang sangat positif. Pro berarti forward atau maju. Sedangkan ballein berarti to drive atau to throw. Jadi, problem berarti bergerak maju. Problem berarti kesempatan untuk maju dan berkembang. Sewaktu pertama kali mengetahui bahwa akar kata problem, proballein, artinya bergerak maju, saya sempat terhenyak dengan perasaan kaget dan takjub. Sungguh luar biasa dan sungguh benar. Coba kita renungkan bersama. Masalah sebenarnya adalah suatu simtom yang menunjukkan adanya suatu penyebab atau akar masalah. Justru dengan seringnya seseorang mendapat "masalah", bila orang ini cukup bijak dan jujur pada dirinya sendiri, ia akan berkembang dan bisa lebih maju.
Lha, kok bisa begini? Pernahkah Anda, atau mungkin orang yang Anda kenal, mendapat atau mengalami masalah? Jawabannya, "Sudah tentu pernah." Pertanyaan saya selanjutnya, "Apakah masalah yang dialami Anda mirip denganmasalah sebelumnya?"
Jika kita mau bersikap jujur dan jeli dalam mengamati maka seringkali masalah yang kita alami sifatnya "mengulang" masalah sebelumnya. Ada kemiripan atau kesamaan. Bentuk masalahnya bisa berbeda namun polanya sama.
Satu contoh. Ada seorang wanita yang putus dengan pacarnya. Ia marah, kecewa, sakit hati, dendam, dan bersumpah akan mencari pasangan yang jauh lebih baik. Namun kenyataannya? Ia mendapatkan pacar baru yang mempunyai karakter yang serupa dengan mantan pacarnya. Ada lagi seorang pengusaha besar, kawan saya, berulang kali kena tipu. Sekali kena tipu jumlahnya nggak main-main. Bukan puluhan juta tapi ratusan juta. Dan ini terjadi berulang kali.
Seorang kawan yang lain seringkali ribut dengan istrinya hanya karena hal-hal sepele. Misalnya hanya karena si istri memencet pasta gigi tidak dari bawah, tetapi dari tengah, ia marah besar. Sebaliknya si istri walaupun telah diberitahu suaminya tetap mengulangi pola perilaku yang
sama.
Masalah yang kita hadapi sebenarnya menunjukkan "level" kita. Siapa diri kita sebanding dengan masalah yang kita hadapi. Bukankah ada tertulis bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita untuk mengatasinya? Dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya?
Masalah atau problem sebenarnya guru sejati yang seringkali kita abaikan. Kebanyakan orang mengalami masalah yang serupa atau berulang karena merekatidak belajar dari masalah yang pernah mereka alami. Ibarat anak sekolah bila kita tidak naik kelas, karena nilai ujian kita jelek, maka kita akan mengulang di level atau kelas yang sama. Tidak mungkin guru akan menaikkan kita ke kelas berikutnya. Mengapa? Lha, soal ujian di level ini saja kita nggak lulus apalagi kalau diberi soal ujian level di atasnya. Kita harus mengulang, tidak naik kelas, dengan harapan kita akan belajar, meningkatkan diri, dan akhirnya mampu mengerjakan soal ujian dengan benar. Dengan demikian kita "lulus" ke kelas berikutnya.
Saat tidak naik kelas, bukannya belajar dari "masalah" ini, banyak yang malah membuat masalah baru dengan menjadi marah, frustrasi, dan menyalahkan guru atau sekolah. Anda pernah bertemu dengan orang seperti ini? "Ah, itu kan anak sekolah. Memang harusnya begitu," ujar kawan saya. Lho, kita ini kan juga anak sekolah. Kita sekolah di Sekolah Kehidupan. Kehidupan adalah tempat kita belajar. Untuk maju kita harus menjadi pembelajar seumur hidup atau life long learner. Ada yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Saya kurang setuju dengan pernyataan ini. Menurut saya pengalaman adalah guru terbaik bila itu pengalaman orang lain. Jadi, kita belajar dan mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan dengan menelaah dan mempelajari pengalaman orang lain dan kita terapkan untuk kemajuan hidup kita. Lha, lebih baik mana, Anda kena tipu Rp 1 miliar atau Anda belajar dari pengalaman orang lain yang tertipu Rp 1 miliar dan Anda gunakan pengetahuan ini untuk melindungi diri Anda agar tidak mengalami masalah yang sama?
Pengalaman adalah guru yang terbaik bila kita dapat memetik pelajaran berharga dari apa yang kita alami. Kebanyakan orang mengalami "pengalaman" hanya sekadar mengalami. Mereka tidak memetik pelajaran atau manfaat apa pun dari pengalaman (baca: masalah) mereka.
OK. Sekarang sudah jelas bahwa kita bisa belajar dari masalah. Tapi bagaimana caranya? Ada empat langkah mujarab untuk mengatasi setiap masalah dalam hidup:
1. Mengakui adanya masalah
2. Setiap masalah pasti ada sumber atau akar masalahnya
3. Bila akar masalah ditemukan maka masalah dapat dipecahkan
4. Jalan keluar untuk menyelesaikan masalah
Contoh konkritnya?
Mari kita analisis kasus yang dialami kawan saya. Itu lho, yang bolak-balik kena tipu ratusan juta rupiah.
Langkah pertama adalah mengakui atau menerima bahwa ia punya masalah. Ia harus berani mengakui dan memutuskan untuk mengubah hal ini. Masalahnya adalah ia berkali-kali kena tipu. Banyak orang yang bila mendapat masalah, hanya bisa berdoa, pasrah, nrimo, dan berkata bahwa masalah mereka adalah bentuk cobaan dari Tuhan. Mereka meyakini bahwa masalah yang mereka alami, karena merupakan cobaan dari Tuhan, maka Tuhan-lah yang harus mengubah keadaan ini. Saya tidak setuju dengan pandangan ini. Bukankah ada tertulis bahwa Allah tidak akan membantu mengubah nasib umat-Nya apabila umat-Nya tidak bersedia mengubah nasib mereka sendiri.
Langkah kedua adalah memahami bahwa masalah (simtom) yang ia alami pasti ada sumber atau akar masalah. Dan akar masalahnya bukan terletak di luar dirinya, misalnya ia tertipu karena kelihaian si penipu dalam meyakinkan dirinya sehingga mau meminjami uang, tapi akar masalahnya terletak di dalam dirinya.
Langkah ketiga, bila akar masalah yang ada di dalam dirinya berhasil ditemukan, maka ia dapat mengatasi masalahnya.
Langkah keempat adalah memilih solusi terbaik yang akan digunakan dalam mengatasi masalah. Setelah sukses melakukan empat langkah di atas maka ia dapat memetik hikmah dari apa yang ia alami.
Sekarang akan saya uraikan langkah demi langkah yang dilakukan kawan saya.
Langkah 1. Masalah: Saya tertipu ratusan juta berkali kali.
Langkah 2. Saya menyadari bahwa akar masalah terletak di dalam diri saya.
Langkah 3. Akar masalah saya adalah belief yang menyatakan bahwa saya adalah kasirnya Tuhan.
Langkah 4. Saya mengubah belief saya, dari kasirnya Tuhan menjadi Fund Manager uangnya Tuhan. Saya akan mengelola uang yang dipercayakan kepada saya dengan hati-hati karena saya harus mempertanggungjawab kan uang ini setiap akhir tahun buku.
Hikmah yang didapat dari masalah ini adalah bahwa apa yang ia alami dipengaruhi oleh belief-nya. Setiap belief mengakibatkan konsekuensi tertentu. Cara paling tepat untuk mengevaluasi apakah suatu belief bermanfaat atau justru merugikan diri kita bisa dilihat dari akibat yang ditimbulkan oleh belief-belief itu terhadap hidup kita.
Selama seseorang masih tetap memegang belief yang sama maka ia akan mendapat hasil yang sama. Tidak mungkin terjadi seseorang mendapat hasil yang berbeda dengan belief yang sama. Einstein menjelaskan dengan sangat tepat saat ia berkata, "Insanity is doing the same thing over and over but expecting different result."
Oleh Adi W. Gunawan.
Sumber: milis keluargavcm dari pak Irwan.
Diposting oleh
Administrator
di
11:39 PM
2
komentar
Label: Articles, From Mailing List
Senin, Agustus 20, 2007
Acara Peringatan HUT RI ke 62 di VCM
Acara peringatan HUT RI ke 62 di VCM berlangsung lancar, dan sukses berlangsung pada tanggal 17 Agustus 2007. Dimulai dengan upacara bendera berlangsung dengan khidmat di lapangan Mercurius. Upacara yang dimulai tepat pukul 07:15 dipimpin oleh ketua RW bapak Darmoni dihadiri oleh cukup banyak warga. Petugas upacara terdiri dari berbagai lapisan warga. Paskibra diwakili oleh tiga SATPAM terbaik, pembaca naskah oleh remaja VCM, MC oleh ibu Vita Danu serta paduan suara oleh remaja VCM.
Kemudian acara dilanjutkan dengan acara ramah-tamah dan lomba di taman Jupiter 1. Pada acara tersebut panitia menyediakan hidangan nikmat seperti bubur ayam (langganan warga), juga ada bubur Menado, kacang ijo, dan kue-kue. Lomba berlangsung seru seperti lomba bendera, lomba bawa kelereng untuk anak-anak, tarik tambang untuk remaja dan bapak-bapak, lomba terong untuk bapak-bapak, lomba dansa balon untuk pasutri. Acara ditutup dengan pembagian hadiah kepada pemenang pada pukul 11:00.
Pada sore hari berlangsung pertandingan volley gembira di lapangan volley taman Mercurius. Pertandingan diikuti oleh gabungan warga 2 enclave RT1234 melawan RT 5678. Pertandingan berlangsung penuh keakraban dan seru dimenangkan oleh warga RT5678. Dipinggir lapangan ibu-ibu turut memberi support para suami dengan penuh antusias.
Lomba lain yang telah berlangsung sebelumnya adalah sepak bola mini diikuti oleh remaja, pertandingan gaple diikuti oleh petugas SATPAM, kebersihan serta warga, juga pertandingan catur berlangsung pada malam sebelumnya tanggal 16 Agustus 2007.
Puncak acara digelar pada malam 17 Agustus 2007 di taman Jupiter 3. Acara dibuka dengan sambutan pak RW lalu dari ketua panitia. Kemudian acara dilanjutkan diisi oleh warga penuh bakat dari remaja, bapak-bapak dan tidak ketinggalan ibu-ibu. Acara juga dimeriahkan oleh Ultimate Band dengan lagu-lagu 60's dan 70's sampai dangdut. Tentu saja warga dengan antusias berjoget ria di depan panggung. Keseluruhan acara berlangsung meriah dan lancar yang dihadiri lebih dari 300 warga Villa Cinere Mas berakhir pukul 12:30 malam.
Diposting oleh
Cornelius Kristianto
di
6:30 PM
0
komentar
Label: News
Kamis, Agustus 16, 2007
Pribadi To Do, To Have, atau To Be?
"Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain." (Victor Hugo)
Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.
Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.
Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.
Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.
Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, "Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis." Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa
sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?
Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.
Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang. Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.
Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka. Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air
mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya...," katanya.
Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.
Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.
Memaknai hidup
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.
Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.
Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"
Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.
Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!
Oleh: Anthony Dio Martin
Sumber: milis keluargavcm dari pak Irwan.
Diposting oleh
Cornelius Kristianto
di
7:30 PM
0
komentar
Label: Articles, From Mailing List
Minggu, Agustus 12, 2007
Cepat Sabar
Entah karena menganggap saya sebagai orang yang kurang sabar, kurang optimis, atau kurang gigih, seorang kawan mengirimkan surat elektronik berisi cerita inspiratif yang tak jelas asal usulnya. Nama penulisnya pun tak tercantum. Dan karena tidak bersifat rahasia, tidak membahayakan orang, dan tidak mengandung fitnah, maka saya kutip dibawah ini.
Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata, "Guru, ajarilah saya kungfu!" Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil yang terbuat dari besi kasar beliau berkata, "Tugasmu menjadi juru masak dan
setiap engkau meniup api dengan cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah halus dan bayanganku terlihat jelas."
Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap mengatakan sampai cerobong besi itu halus. Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata, "Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling keras di hutan."
Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras. Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, "Guru, maafkan saya. Saya sudah mencari kemana-mana, tetapi ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya."
Sang guru tersenyum sambil berkata, "Muridku, saat ini engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap. Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu. Engkau juga telah
melatih kesabaranmu yang akan membantumu untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya."
Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu.
Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah. Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha, tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi yang harmonis antara
rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi) . Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi mempunyai hikmah dan kebaikan. Optimisme adalah kemampuan kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah makna sesungguhnya dari kata "sabar".
Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing, dan serba cepat lainnya, kata "sabar" seolah-olah menjadi kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan kurang gaul alias ketinggalan jaman.
Memang, kita hidup pada jaman yang bergegas. Informasi, data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an juta, dan tiap hari lebih
dari 80 juta pesan pendek hilir mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas. Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk "sabar" nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.
Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan "soal" yang yang penting tersebut adalah soal membentuk watak alias karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan karakte -- entah itu yang personal maupun komunal -- acapkali kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu bertikai dengan proses pembangunan karakter yang mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen wajibnya. Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian, keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya, baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan selaras. Ketekunan bekerja dan kesabaran
berproses menjadi jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk tulang. Sungguh luar biasa!
Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar untuk menjadi orang yang "cepat sabar", dan bukan orang yang cepat marah. Apakah benar demikian?
Oleh: Andrias Harefa
Dari Milis Keluarga VCM
Diposting oleh
Administrator
di
11:43 AM
0
komentar
Label: Articles, From Mailing List
Sabtu, Agustus 04, 2007
Mitos vs. Historis: Siapkah Anda?
Mengapa Winnie Mandela meninggalkan Nelson Mandela setelah menunggunya selama 27 tahun masa dipenjara? Mengapa banyak petinggi negara dan eksekutif ternama sepertinya mempunyai lebih dari satu"kepribadian"? Mengapa si komunikator ternama dengan rambut aduhai itu mengajak teman baik Anda untuk "affair kucing-kucingan ala remaja" di luar negeri, padahal ketenarannya sudah mencapai seantero dunia dan dikenal sebagai humanis yang
humoris? Artis X yang tampak benar-benar humanis di hadapan publik bisa dengan tiba-tiba menjadi seorang kleptomania di toko pakaian.
In a nutshell, mengapa orang-orang ternama tampaknya tidak perduli dengan apa yang dia lakukan di luar pekerjaannya? Bukankah mereka sepatutnya selalu menjaga diri dan tindakan sehingga tidak mencoreng reputasi mereka?
Mengapa kedengarannya dunia begitu penuh dengan "gossip" dan isyu-isyu yang bertolak belakang? Bahkan salah satu teman saya bilang, "Saya sudah susah respek terhadap petinggi-petinggi negara. Mereka Cuma baik di depan publik, di belakang mereka itu busuk."
Jawabannya simple saja. Setiap orang mempunyai kepribadian "mitos" (kepribadian yang dikenal publik, di mana terbatas hanya dengan penampakan-penampakan di muka publik saja, atau "public face") dan kepribadian "historis" (kepribadian sebenarnya yang penuh dengan kekurangan dan kelebihan, yaitu "actual face"). Istilah ini saya pinjam dari analisis politik piawai, Bung Eep Saefulloh Fatah, yang dulu sesama rekan mahasiswa almamater saya di UI, dari bukunya yang berisi kumpulan tulisan-tulisannya.
Mencintai Indonesia dengan Amal.
Di samping itu, ingatlah bahwa alam berputar atas prinsip yin dan yang. Di dalam kebaikan, selalu ada keburukan. Di dalam kebajikan, selalu ada kebodohan. Walaupun kedengarannya simplistic, prinsip yin-yang ini dapat diterapkan di hampir semua fenomena kehidupan, termasuk dalam perilaku (behavior) seseorang. Secara individu, jelas semua orang berada di tempat yang netral, namun perilakunya yang selalu mengalir dan bergulir dalam siklus yin dan yang.
Kembali kepada Winnie Mandela, selama 27 tahun ia menunggu Nelson di penjara atas aktifitas-aktifitas anti-apartheidnya. Ia memandang suaminya sebagai suatu simbol, suatu mitos humanis dari kebesaran manusia dalam bertahan (endure) di tengah kesulitan. Diam-diam, ia mengagumi Nelson sebagai seorang manusia "super."
Sayangnya, Winnie tidak siap ketika Nelson pulang ke rumah setelah masa tahanannya selesai. Ia mengharapkan Nelson tetap bertindak sebagai mitos. Wah, ternyata, ia salah sangka.
Coba saja Anda bayangkan, apa yang akan Anda lakukan setelah ke luar dari penjara yang telah mengekang Anda selama 27 tahun?
Pertama, Anda sudah kehilangan orientasi dan "lupa" bagaimana hidup "normal" di dalam rumah tangga dengan istri Anda yang tercinta. Mungkin saja Anda menjadi tergila-gila akan hal-hal yang tidak Anda dapatkan selama di penjara. Bisa menjadi "gila makan", "gila pakaian baru", "gila tidur", "gila ngobrol", dan lain-lain yang tidak bisa Anda lakukan selama dalam
masa kekangan.
Bagaimana Winnie melihat Nelson Mandela sekarang? Totally berbeda dari mitos seorang humanis pejuang hak azasi bukan? Tiba-tiba, seorang Nelson tidak ada lagi bedanya dari suami-suami lainnya yang Winnie temui. In the end, he is just a human, not a myth.
Hal-hal seperti ini juga terjadi terhadap public figure lainnya, termasuk pejabat dan selebriti yang sering kita baca beritanya di media massa. Di rumah (baca: di luar mata publik), mereka hanyalah orang biasa. Kadang kala ngomel sana, ngomel sini. Kadang-kadang ingin tidur sampai siang. Sering lupa di mana menyimpan sesuatu. Ada pula yang punya urgensi seksual yang
agak "menyimpang."
Sayangnya, penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh public figure di Indonesia tidak mendapatkan "audit" dari sistem check and balance, sebagaimana yang dialami public figure di Amerika Serikat, misalnya. Terlepas dari imaji Hollywood yang ditayangkan di layar perak, di mana Americans digambarkan sebagai bangsa yang bombastis dan gemar mengumbar
nafsu, para public figure di sini, terutama kaum politisinya, sangat disorot oleh masyarakat.
Sebagai contoh, pemain Star Trek Jeri Ryan yang berperan sebagai cyborg Seven of Nine pernah mengunjungi club malam bersama suaminya yang senator Illinois Jack Ryan. Believe it or not, ini menjadi skandal seks tanpa seks pertama di Amerika Serikat yang menjatuhkan pamor seorang politisi. Ternyata, publik Amerika Serikat jauh lebih konservatif daripada yang
kebanyakan orang bayangkan. Sebagai pasangan suami istri yang mengunjungi klub malam bersama tanpa melakukan seks publik, ternyata ini memberi pesan yang tidak disukai oleh publik karena jenis klub yang dikunjungi cukup kinky. Maka jatuhlah Jack Ryan dari kursi senator.
"Historical persona" seseorang ternyata dapat menjatuhkan "mythological persona" seseorang dalam sekejap. Hal ini, di Indonesia, masih sangat terpisah (walaupun banyak yang bertanya-tanya dan agak "kecewa" dengan kepribadian historis pejabat dan selebriti). Contohnya saja, berapa banyak pejabat Indonesia yang suka main perempuan? Tetap saja kepribadian mitosnya yang kita hargai. Kalau ini terjadi di Amerika Serikat, sudah tidak ada
ampun lagi bagi karir politis yang bersangkutan. Mungkin juga ini karena banga Indonesia adalah bangsa yang pemaaf.
Kedua, siklus yin dan yang bergulir terus dari waktu ke waktu. Segala sesuatu di dalam alam ini, termasuk manusia, mengalami siklus yin dan yang. Dari positif menjadi negatif. Dari bagus menjadi busuk. Dari jauh menjadi dekat.
Jika seseorang mengalami masa yin di dalam "kepribadian mitos"nya, seperti karir yang hancur dan proyek yang gagal, hal-hal seperti ini tampaknya dapat secara langsung terlihat oleh orang lain. Beda halnya jika masa yin yang dialami ada di dalam "kepribadian historis."
Mariah Carey dan Whitney Houston, misalnya, pernah mengalami nervous breakdown di muka umum. Ini adalah kepribadian historis mereka yang menderita. After all, mereka hanyalah manusia biasa. Karir mereka sempat tersendat, namun beberapa waktu kemudian mereka berhasil menggulirkan masa yin menjadi masa yang (kemenangan) kembali.
Kesimpulannya, yin dan yang mempengaruhi kepribadian "mitos" (public face) dan kepribadian "historis" (actual or private face). Keempat hal ini saling berkait satu sama lain dan bisa saling menjatuhkan atau saling membangun. Memandang dunia dari ke-empat kaca mata ini akan membuat Anda semakin mengerti apa yang sedang terjadi di sekeliling Anda.
Dunia ini berubah terus dan perubahan tidak bisa dihindari. Kuncinya adalah sikap kita dalam menghadapi dan memanipulasi perubahan baik dalam kepribadian "mitos" maupun "historis."
Sumber: Mitos vs. Historis: Siapkah Anda? oleh Jennie S. Bev. Jennie
Dari Milis KeluargaVCM
Diposting oleh
Cornelius Kristianto
di
8:54 AM
0
komentar
Label: Articles, From Mailing List
